Cara Membuat Otak dan Pikiran Cerdas Menurut Islam – 3 METODE ULAMA AGAR PIKIRAN CERDAS
Memiliki
pikiran cerdas adalah harapan semua orang. Sejatinya, semua manusia
dikarunia kecerdasan. Hanya saja, seberapa sering orang melatih
kecerdasan bawaannya. Semakin otak sering dilatih, maka kecerdasan akan
makin nampak, sebaliknya bila otak jarang dilatih akan tumpul. Jadi,
hakikatnya tidak ada manusia bodoh di dunia ini, cuma manusia yang tidak
pernah memakai kecerdasannya.
Kecerdasan
terdiri 2 bagian, yakni kecerdasan kognitif dan kecerdasan
non-kognitif. Dari dua kecerdasan tersebut, manusia kebanyakan memiliki
salah satu yang menonjol. Apabila seseorang tidak memiliki satu pun yang
menonjol baik kecerdasan kognitif dan non-kognitif inilah yang mesti
banyak belajar. Bukan karena dia bodoh, tetapi sepanjang hidupnya jarang
menggunakan otaknya. Ini perlu merefleksikan diri.
Sobat
travelers, menjadi orang besar dan cerdas dapat dipelajari dari para
ulama terdahulu. Mereka yang menghabiskan hidup, selain bertawakal
kepada Allah SWT, juga senantiasa mengasah pikiran dalam menyusun karya
dan menyebarkan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi umat. Antara
agama dan ilmu pengatahuan haruslah seimbang. Ilmu pengetahuan di dunia
diperoleh melalui kecerdasan pikiran. Masing-masing ulama memiliki
metode-metode yang berbeda untuk meningkatkan kecerdasan, tetapi hasil
akhirnya semua sama, yakni manusia besar dan cerdas.
Berikut metode yang diajarkan oleh para ulama besar:
1. Imam Malik
Imam
Malik adalah ulama besar yang lahir di kota Madinah pada 711 M. Beliau
selalu menyedikitkan waktu tidur untuk dipergunakan belajar dan mencari
ilmu pengetahuan. Seorang ulama fiqh, Ibnul Qosim mengisahkan bahwa
dirinya sering menemui Imam Malik sebelum fajar dan waktu sahur. Beliau
tidak tidur, tetapi terus belajar.
Dari
ketekunan Imam Malik di atas, kita diharapkan tidak terlalu banyak
tidur apabila ingin pikiran kita selalu cerdas. Tidurlah sejenak dan
secukupnya, kemudian pergunakan waktu untuk belajar, terutama di waktu
sebelum fajar.
2. Imam Syafi’i
Abū Abdullāh Muhammad bin Idrīs al-Syafi’ī atau yang sering disebut Imam Syafi’i lahir pada 150 H di Ashkelon, Gaza, Palestina. Beliau juga merupakan ulama besar. Metode beliau untuk memperoleh kecerdasan adalah dengan membagi waktu sepertiga. Jadi, dari keseluruhan waktu 24 jam/hari, Imam Syafi’i membagi sepertiga pertama untuk menulis ilmu, sepertiga kedua untuk shalat malam, dan sepertiga ketiga untuk tidur. Sehingga, Imam Syafi’i memiliki waktu tidur normal, yakni 8 jam/hari. Selebihnya, 8 jam berturut-turut dipergunakan untuk beribadah dan belajar.
Abū Abdullāh Muhammad bin Idrīs al-Syafi’ī atau yang sering disebut Imam Syafi’i lahir pada 150 H di Ashkelon, Gaza, Palestina. Beliau juga merupakan ulama besar. Metode beliau untuk memperoleh kecerdasan adalah dengan membagi waktu sepertiga. Jadi, dari keseluruhan waktu 24 jam/hari, Imam Syafi’i membagi sepertiga pertama untuk menulis ilmu, sepertiga kedua untuk shalat malam, dan sepertiga ketiga untuk tidur. Sehingga, Imam Syafi’i memiliki waktu tidur normal, yakni 8 jam/hari. Selebihnya, 8 jam berturut-turut dipergunakan untuk beribadah dan belajar.
3. Abu Hurairah
Abu Hurairah lahir di Baha, Yaman. Metode Abu Hurairah untuk tetap memperoleh kecerdasan ilmu pengetahuan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT dengan cara membagi sepertiga waktu malam berdasarkan jumlah orang. Jadi, beliau, istri dan anaknya, masing-masing dapat menunaikan shalat malam. Selebihnya, waktunya digunakan untuk belajar.
Abu Hurairah lahir di Baha, Yaman. Metode Abu Hurairah untuk tetap memperoleh kecerdasan ilmu pengetahuan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT dengan cara membagi sepertiga waktu malam berdasarkan jumlah orang. Jadi, beliau, istri dan anaknya, masing-masing dapat menunaikan shalat malam. Selebihnya, waktunya digunakan untuk belajar.
Itulah
metode-metode yang dipakai para ulama dalam melatih dan menumbuhkan
kecerdasan serta ketaqwaan kepada Allah SWT. Semoga ini menjadi
inspirasi sobat travelers untuk menata kembali waktu hari-hari sobat.
Sehingga, pikiran kita tetap terasah dan diberi kemudahan dalam segala
hal karena mempunyai tingkat kecerdasan tertentu. Amin.
*Disarikan dari buku “Zero to Hero” karya Solikhin Abu Izzudin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar