Rabu, 08 Februari 2017

KISAH 4 SAHABAT BESAR NABI MUHAMMAD SAW

KISAH 4 SAHABAT BESAR NABI MUHAMMAD SAW

Abu Bakar Ash-Shiddiq


Tidak syak lagi bahawa Saidina Abu Bakar r.a. merupakan manusia paling paling tinggi martabatnya di kalangan para sahabat. Rasulullah s.a.w sendiri pernah menyampaikan berita gembira mengenai kedudukan yang utama di antara para penghuni syurga.

Baginda s.a.w bersabda: "Nama Abu Bakar akan diseru dari segenap pintu syurga dan dialah pengikutku yang pertama akan memasukinya."Namun demikian,perasaan takutnya kepada Allah tetap bertakhta dikalbunya. Dia sering berkata : "Alangkah bagusnya jika aku menjadi sebatang pokok yang ditebang dan dijadikan kayu api."


Kadang-kadang beliau berkata : "Alangkah baiknya kalau aku ini sehelai rumput yang riwayat hidupnya akan tamat apabila dimakan oleh seekor binatang ternakan."


Pada suatu hari beliau telah pergi ke sebuah taman di mana dia lihat seekor burung sedang berciap-ciap. Katanya: "Wahai burung! Sungguh bertuah engkau. Kamu makan, minum dan berterbangan di bawah naungan pokok-pokok kayu tanpa sebarang perasaan takut tentang hari perkiraan. Aku ingin menjadi seperti engkau wahai burung."


Rabi'ah Aslami r.a. telah bercerita : "Pada suatu hari aku telah bertengkar dengan Abu Bakar. Semasa pertengkaran itu berlaku, dia mengeluarkan sepatah kata kesat kepada aku. Dengan serta-merta dia telah menyedari kesilapannya lalu berkata: "Wahai saudara, gunakanlah perkataan itu terhadapku sebagai tindakan balas." Aku enggan berbuat demikian. Dia menggesaku supaya menggunakan perkataan kesat itu dan berkata hendak merujuk kepada Nabi s.a.w. Aku tidak juga mahu mengalah. Dia pun bangun meninggalkan aku. Beberapa orang dari ahli puakku yang menyaksikan peristiwa tadi mencemuh: "Ganjil betul orang ini; dia yang melakukan kesalahan dan dia pula mengancam hendak mengadukan kepada Nabi s.a.w." Dengan segera aku menyampuk: "Kamu tahu siapakah dia? Dia adalah Abu Bakar. Menyinggungnya bererti menyinggung Nabi dan menyinggung Nabi bererti menyinggung Allah. Kalau perbuatanku menyinggung Allah, siapakah yang akan menyelamatkan aku?" Aku pun bangun lantas pergi mendapatkan Nabi s.a.w, kepadanya aku bercerita apa yang telah berlaku. Baginda s.a.w bersabda:" Keenggananmu mengeluarkan kata-kata kesat itu sudah kena pada tempatnya. Tetapi untuk mengurangkan penderitaan batinnya (Abu Bakar), sekurang-kurangnya kamu berkatalah: "Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar."


Begitulah ketaqwaan yang telah ditunjukkan oleh Saidina Abu Bakar r.a. Keenggananya menerima pembalasan di akhirat menyebabkan dia mendesak Rabi'ah Aslami supaya mengambil tindakan balas ke atasnya. Kekesalannya dan penderitaan batinnya akibat kesalahannya itu demikian rupa sehingga beliau sanggup menceritakan segala-galanya kepada Nabi s.a.w dengan harapan Nabi dapat menolongnya.


Bagaimanakah pula perasaan kita, umat Islam kini, selepas melakukan kesalahan seperti itu? Kita sering melakukan kesalahan tanpa sebarang perasaan takut akan pembalasan sama ada di dunia ini atau pun diakhirat nanti.


Umar Bin Al -Khattab


KEUTAMAAN UMAR BIN AL-KHATTAB

Setelah membahas tentang keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq, kiranya perlu juga kita membahas tentang kemualiaan Umar bin Khattab. Ia adalah seorang khalifah yang sangat terkenal, perjalanan hidupnya adalah teladan yang diikuti, dan kepemimpinannya adalah sesuatu yang diimpikan. Banyak orang saat ini memimpikan, kiranya Umar hidup di zaman ini dan memipin umat yang tengah kehilangan jati diri.

Ada beberapa gelintir orang yang tidak menyukai khalifah yang mulia ini, mereka mengatakan al-Faruq telah mencuri haknya Ali. Menurut mereka, Ali bin Abi Thalib lebih layak dan lebih pantas dibanding Umar untuk menjadi khalifah pengganti Nabi. Berangkat dari klaim tersebut, mulailah mereka melucuti kemuliaan dan keutamaan Umar. Mereka buat berita-berita palsu demi rusaknya citra amirul mukminin Umar bin Khattab. Mereka puja orang yang memusuhinya dan pembunuhnya pun digelari pahlawan bangsa.

Berikut ini kami cuplikkan kabar-kabar ilahi yang bercerita tentang keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan Umar bin Khattab, karena seperti itulah ia layak untuk diceritakan.

Nasab dan Ciri Fisiknya

Ia adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luai, Abu Hafsh al-Adawi. Ia dijuluki al-Faruq.

Ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah. Ibunya adalah saudari tua dari Abu Jahal bin Hisyam.

Ia adalah seseorang yang berperawakan tinggi, kepala bagian depannya plontos, selalu bekerja dengan kedua tangannya, matanya hitam, dan kulitnya kuning. Ada pula yang mengatakan kulitnya putih hingga kemerah-merahan. Giginya putih bersih dan mengkilat. Selalu mewarnai janggutnya dan merapikan rambutnya dengan inai (daun pacar) (Thabaqat Ibnu Saad, 3: 324).

Amirul mukminin Umar bin Khattab adalah seorang yang sangat rendah hati dan sederhana, namun ketegasannya dalam permasalahan agama adalah ciri khas yang kental melekat padanya. Ia suka menambal bajunya dengan kulit, dan terkadang membawa ember di pundaknya, akan tetapi sama sekali tak menghilangkan ketinggian wibawanya. Kendaraannya adalah keledai tak berpelana, hingga membuat heran pastur Jerusalem saat berjumpa dengannya. Umar jarang tertawa dan bercanda, di cincinnya terdapat tulisan “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu hai Umar.”

Keistimewaan dan Keutamaannya

- Umar adalah Penduduk Surga Yang Berjalan di Muka Bumi

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata, ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku sedang berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudhu di sebuah istana (surga), maka aku pun bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’ Wanita-wanita yang ada di sana menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu.” Umar radhiallahu ‘anhu menangis dan berkata, “Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah.”

Subhanallah! Kala Umar masih hidup di dunia bersama Rasulullah dan para sahabatnya, namun istana untuknya telah disiapkan di tanah surga.

- Mulianya Islam dengan Perantara Umar

Dalam sebuah hadisnya Rasulullah pernah mengabarkan betapa luasnya pengaruh Islam di masa Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Beliau bersabda,

“Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta’alamengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar bin al-Khattab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk onta-onta mereka.”

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Kami menjadi kuat setelah Umar memeluk Islam.”

- Kesaksian Ali bin Abi Thalib Tentang Umar bin al-Khattab

Diriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, “Umar radhiallahu ‘anhu ditidurkan di atas kasurnya (menjelang wafatnya), dan orang-orang yang berkumpul di sekitarnya mendoakan sebelum dipindahkan –ketika itu aku hadir di tengah orang-orang tersebut-. Aku terkejut tatkala seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Kemudian Ali berkata (memuji dan mendoakan Umar seperti orang-orang lainnya), “Engkau tidak pernah meninggalkan seseorang yang dapat menyamai dirimu dan apa yang telah engkau lakukan. Aku berharap bisa menjadi sepertimu tatkala menghadap Allah Subhanahu waTa’ala. Demi Allah, aku sangat yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu bersama dua orang sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar).

Aku sering mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku berangkat bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar.”

- Umar adalah Seorang yang Mendapat Ilham

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapakannya, maka Umarlah orangnya.”

Zakaria bin Abi Zaidah menambahkan dari Sa’ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan nabi. Jika salah seorang dari umatku mendapatkannya, maka Umarlah orangnya.”

- Wibawa Umar

Dari Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.” (HR. Tirmidzi dalam al-Manaqib, hadits no. 3791)

Demikianlah di antara keutamaan Umar bin al-Khattab yang secara langsung diucapkan dan dilegitimasi oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah meridhai Umar bin al-Khattab.

Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah

---

Uthman bin Affan RA


Khalifah Ketiga, Malaikat Berasa Malu Kepadanya

Muqaddimah

`A’ishah melaporkan: Nabi sedang duduk di bawah rumahnya dengan peha atau betisnya terdedah. Abu Bakar meminta izin untuk masuk ke rumah dan telah diizinkan sedangkan Nabi yang berada dalam posisi demikian dan ia datang dan berbicara dengan nabi. Kemudian `Umar meminta izin untuk memasuk. Dia telah diberikan izin dan datang dan berbicara dengan dia masih dalam posisi tadi. Kemudian` Usman bin Affan meminta izin dan Nabi bangun dan pakaiannya itu dibetulkan.

Dia kemudian diizinkan dan datang dan berbicara dengan Nabi. Setelah ia telah pergi, `A’ishah berkata,” Abu Bakra masuk dan anda tidak membetulkan pakaian untuk dia atau khawatir tentang dia dan `Umar datang dan Anda tidak membeetulkan pakaian untuk dia dan tidak khawatir tentang dia tetapi bila dalam `Usman bin Affan datang, Anda luruskan Anda pakaian!” Nabi berkata, “Patutkah saya tidak segan dengan seorang lelaki yang malaikat sangat malu dengannya?” (HR Muslim).

Sirah Uthman

Khalifah Uthman merupakan khalifah Islam yang ketiga selepas Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar al-Khattab. Beliau dilantik menjadi khalifah melalui persetujuan orang ramai (syura).

Nama beliau sebenarnya ialah Uthman b. ‘Affan b. Abul-As yang mana beliau dilahirkan ketika baginda Nabi Muhammad SAW berumur 5 tahun. Uthman merupakan seorang bangsawan dari golongan Quraish dari Bani Ummayah.

Beliau terkenal sebagai seorang yang lemah lembut, pemurah dan baik hati. Beliau merupakan salah seorang dari saudagar yang terkaya di Tanah Arab, sehingga beliau digelarkan dengan gelaran “al-Ghani“. Selepas memeluk Islam beliau banyak mendermakan hartanya ke arah kepentingan agama Islam, sebagai contohnya dalam peperangan Tabuk, beliau telah mendermakan hartanya iaitu 950 ekor unta, 50 ekor kuda dan 1,000 dinar. Begitu juga ketika umat Islam berhijrah ke Madinah, umat Islam menghadapi masalah untuk mendapatkan air minuman. Oleh itu Saidina Uthman telah membeli telaga Ruma dari seorang Yahudi dengan harga 20,000 dirham untuk digunakan oleh umat Islam dengan percuma.

Saidina Uthman bin Affan ra adalah seorang yang bertaqwa dan bersikap wara’. Tengah malamnya tak pernah disia-siakan. Beliau memanfaatkan waktu itu untuk mengaji Al-Quran dan setiap tahun beliau menunaikan ibadah haji. Bila sedang berzikir dari matanya mengalir air mata haru. Beliau selalu bersegera dalam segala amal kebajikan dan kepentingan umat, dermawan dan penuh belas kasihan. Khalifah Uthman telah melaksanakan hijrah sebanyak dua kali, pertama ke Habsyah, dan yang kedua ke Madinah.

Perjalanan ke Islam

Era sebelum Islam memerintah, orang Arab menyembah berhala dan hidup dalam keadaan jahiliyyah seperti menanam anak perempuan hidup-hidup dan menumpahkan darah yang jumlahnya bukan sedikit walaupun tanpa alasan. Semangat perkauman antara kabilah sangat kuat, dan menjadikan tuan menghina dan menzalimi hamba mereka. Perempuan diperlakukan dengan kejam, dianggap sebagai objek pemuas nafsu lelaki. Mereka semata-mata untuk melahirkan anak dan kegunaan pribadi.

Sebagai pemuda yang penuh denga kekuatan, `Usman bin Affan menjelajah ke banyak tempat untuk berdagan. Kerana itu dia mendapat kesempatan untuk mengenali berbagai orang dari berbagai bangsa dan untuk belajar banyak tentang pelbagai kepercayaan lain, yang berbeza darinya. Pandangannya tentang berhala dan gaya hidup orang Arab berubah ketika dia mengetahui tentang Kristian dan Yahudi.

Satu hari ketika `Usman bin Affan kembali ke Mekah setelah selesai berdagang, dan ketika itu orang berbicara tentang Muhammad bin Abdullah.Seluruh kota nampaknya berada dalam kekacauan kerana Muhammad memperkenalkan dirinya sebagai Rasulullah kepada semua orang di seru untuk menyembah hanya satu tuhan yakni Allah yang layak disembah dan tidak harus dikaitkan dengan apapun. Muhammad meminta mereka untuk meninggalkan kebiasaan menyembah semua berhala dan beribadah kepada Allah saja. Meskipun Arab mengetahui Allah, dakwah Muhammad nampaknya aneh, kerana mereka telah sejak lama menyembah tuhan lain selain Allah.

`Usman bin Affan mengetahui tentang Muhammad dengan sangat baik. Muhammad adalah seorang yang luar biasa yang sangat baik kepribadiannya. Walaupun dia tidak segera menerima kepercayaan Islam, ia tidak menentang Muhammad atau Islam seperti yang di lakukan oleh pemimpin Quraisy. Dia ingat akan pengalaman yang di perolehi dalam perjalanannya berdagang, dia mendengar cendekiawan Kristian dan Yahudi berbicara tentang kedatangan Nabi akhir di tanah Arab. Apabila `Usman bin Affan mendengar tentang nabi akhir dari Kristian dan orang-orang Yahudi, ia berharap bahwa nabi yang mereka cakapkan akan memimpin Arab ke dalam jalan terang dan lurus. Dia berfikir tentang apa yang Kristian dan Yahudi bicarakan dan akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi salah satu temannya, Abu Bakar, untuk mengetahui tentang kepercayaan baru ini. Dia tahu bahwa Abu Bakar telah menerima Islam dan dia sangat rapat dengan Muhammad. Abu Bakar menjelaskan banyak hal tentang Islam. Dia mengatakan bahawa orang Islam diminta untuk beribadah kepada Allah saja dan untuk melepaskan dari menyembah tuhan palsu atau berhala. Kemudian Abu Bakr mengundang dia untuk memeluk agama Islam. `Usman bin Affan merasa bahwa Islam adalah agama yang benar dari Allah dan segera masuk Islam atas undangan Abu Bakar. Setelah itu, `Usman bin Affan bertemu Nabi dan menyatakan bahwa dia menerima Islam.

Beliau digelarkan sebagai “Zunnurain” yang bermaksud dua cahaya kerana menikahi dua orang puteri Rasulullah iaitu Ruqayyah dan Ummi Kalthum. Setelah Ruqayyah meninggal dunia, Rasulullah SAW telah menikahkan beliau dengan puteri Baginda iaitu Ummi Kalthum. Uthman berkahwin sebanyak tujuh kali selepas kematian Ummi Kalthum dan seluruh anaknya berjumlah seramai 16 orang. Isterinya yang terakhir ialah Nailah binti Furaifisha.

Beliau dilantik menjadi khalifah selepas kematian Khalifah Umar ra. yang ditikam. Beliau dilantik menjadi khalifah pada tahun 23 Hijrah oleh jawatankuasa syura yang ditubuhkan oleh Khalifah Umar al-Khattab ra.

Kedermawanan Uthman

Dalam tahun kesembilan hijrah, Nabi mendapat berita bahwa Rom sedang merancang untuk memusnahkan Negara Islam yang baru muncul. Nabi seterusnya mengarahkan kaum kaum Muslimin untuk melengkapi diri mereka dengan persiapan perang. Tetapi persediaan menjadi sukar kerana pada tahun itu, kaum Muslimin nampaknya kekurangan sumber tanaman, dan mereka sedang menghadapi musim panas yang sangat panas. Mereka tidak memiliki kelengkapan yang cukup seperti tentera, kerana sebahagian besar Muslimin terdiri dari golongan yang miskin. Situasi ini tidak menghentikan Nabi SAW. Baginda mendesak para sahabat mempersiapkan diri untuk berperang. Setiap sahabat mencuba segala yang terbaik untuk memperkuatkan pasukan Muslimin. Perempuan menjual perhiasan emas dan permata yang mereke miliki untuk membantu persiapan perang.

Walaupun ratusan sahabat yang siap untuk masuk ke medan perang, mereka kekurangan banyak perkara yang diperlukan untuk berperang, seperti kuda, unta, dan bahkan pedang. Nabi mengatakan kepada mereka bahawa ini adalah persoalan yang hidup atau mati untuk negara Islam yang baru. Nabi lantas membuat pengumuman yang jelas: “Barangsiapa yang menyediakan kelengkapan untuk para prajurit, akan diampuni segala dosa oleh Allah.”

Usman bin Affan saat mendengar ucapan Rasulullah SAW, dia menyiapkan dua ratus unta berpelana untuk melakukan perjalanan ke As-Sham, dan mereka semua disiapkan dengan 200 auns emas sebagai sumbangan. Dia menyumbangkan 1000 dinar dan meletakkannya ke atas riba Nabi. Lagi dan lagi `Usman bin Affan sampai ia memberi sumbangan dengan menambah 900 unta dan 100 kuda, selain wang yang diberikan. Melihat kedermawanan `Usman bin Affan, Nabi membuat pernyataan berikut:” Dari pada hari ini, tidak akan ada apa yang akan membayakan `Usman bin Affan walaupun apa yang dilakukannya.”

Kepimpinan Dan Sejarah Pentadbiran

Ahli sejarah telah membahagikan tempoh pemerintahan Khalifah Uthman selama 12 tahun kepada dua bahagian iaitu pertamanya zaman atau tahap keamanan dan keagungan Islam, manakala yang keduanya pula ialah tahap atau zaman “Fitnatul-Kubra” iaitu zaman fitnah.

Zaman Keamanan Dan Keagungan Islam

Banyak jasa-jasa dan juga kejayaan yang telah dilakukan oleh Khalifah Uthman dalam menyebar dan memperkembangluaskan Islam. Ini termasuklah kejayaannya dalam:

1. Bidang Ketenteraan

Khalifah Uthman banyak melakukan perluasan kuasa terhadap beberapa buah negara dalam usahanya menyebarkan Islam, ini dapat dilihat pada keluasan empayar Islam yang dapat mengatasi keluasan empayar Rom Timur dan juga empayar Parsi pada zaman kegemilangan mereka. Antara wilayah baru yang telah berjaya ditakluki ialah Cyprus, Afganistan, Samarqand, Libya, Algeria, Tunisia, Morocco dan beberapa buah negara lagi. Beliau juga bertanggungjawab dalam menubuhkan angkatan tentera laut Islam yang pertama bagi menjamin keselamatan dan melakukan perluasan kuasa. Banyak negara-negara yang telah dibuka melalui angkatan tentera ini.

2. Pembukuan Al-Quran

Perluasan kuasa telah menyebabkan penyebaran Islam terjadi secara meluas. Apabila ramainya orang-orang yang memeluk Islam sudah tentu banyaknya perbezaan antara sesuatu wilayah dengan wilayah yang lain dari segi mereka mempelajari Islam. Apa yang paling ketara sekali ialah dalam masalah mereka mempelajari Al-Quran. Banyak terdapatnya perbezaan bacaan yang membawa kepada salah bacaan antara satu tempat dengan tempat yang lain. Dengan keadaan ini banyak terjadinya salah faham dan saling tuduh menuduh sesama orang Islam dalam menyatakan siapakah yang betul pembacaannya.

Oleh itu Khalifah Uthman telah mengadakan satu naskhah Al-Quran yang baru yang mana ianya digunakan secara rasmi untuk seluruh umat Islam. Khalifah Uthman telah menggunakan lahjah Bahasa Quraish dan yang mana Al-Quran yang berbeza telah dibakar. Al-Quran inilah yang digunakan hingga kehari ini yang mana ianya dikenali dengan nama Mushaf Uthmani. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjamin kesucian Al-Quran sebagai sumber perundangan Islam.

3. Pembesaran Masjid Nabawi

Masjid Nabawi telah menjadi padat kerana dipenuhi dengan jemaah yang semakin ramai, Oleh itu Khalifah Uthman telah membesarkan masjid tersebut dengan membeli tanah bagi memperluaskan kawasan tersebut. Masjid tersebut telah diluaskan pada tahun 29 Hijrah.

4. Menyebarkan Dakwah Islam

Khalifah Uthman sering berdakwah di penjara dan beliau berjaya mengislamkan ramai banduan. Beliau juga banyak mengajar hukum-hukum Islam kepada rakyatnya. Ramai pendakwah telah dihantar keserata negeri bagi memperluaskan ajaran Islam. Beliau juga telah melantik ramai pengajar hukum Islam dan juga melantik petugas khas yang membetulkan saf-saf solat. Beliau juga banyak menggunakan Al-Quran dan as-Sunah dalam menjalankan hukum-hukum.

Al-Fitnah al-Kubra (Zaman Fitnah)

Pada akhir tahun 34 Hijrah, pemerintahan Islam dilanda fitnah. Sasaran fitnah tersebut adalah Saidina Uthman ra. hingga mengakibatkan beliau terbunuh pada tahun berikutnya.

Fitnah yang keji datang dari Mesir berupa tuduhan-tuduhan palsu yang dibawa oleh orang-orang yang datang hendak umrah pada bulan Rejab.

Saidina Ali bin Abi Thalib ra. bermati-matian membela Saidina Uthman dan menyangkal tuduhan mereka. Saidina Ali menanyakan keluhan dan tuduhan mereka, yang segera dijawab oleh mereka, “Uthman telah membakar mushaf-mushaf, shalat tidak diqasar sewaktu di Mekah, mengkhususkan sumber air untuk kepentingan dirinya sendiri dan mengangkat pimpinan dari kalangan generasi muda. la juga mengutamakan segala kemudahan untuk Bani Umayyah (golongannya) melebihi orang lain.”

Pada hari Jumaat, Saidina Uthman berkhutbah dan mengangkat tangannya seraya berkata, “Ya Allah, aku beristighfar dan bertaubat kepadaMu. Aku bertaubat atas perbuatanku. ”

Saidina Ali ra menjawab, “Mushaf-mushaf yang dibakar ialah yang mengandungi perselisihan dan yang ada sekarang ini dan adalah yang disepakati bersama keshahihannya. Adapun shalat yang tidak diqasar sewaktu di Mekah, adalah kerana dia berkeluarga di Mekah dan dia berniat untuk tinggal di sana. Oleh kerana itu shalatnya tidak diqasar. Adapun sumber air yang dikhususkan itu adalah untuk ternakan sedekah sehingga mereka besar, bukan untuk ternakan unta dan domba miliknya sendiri. Umar juga pernah melakukan ini sebelumnya. Adapun mengangkat pimpinan dari generasi muda, hal ini dilakukan semata-mata kerana mereka mempunyai kemampuan dalam bidang-bidang tersebut. Rasulullah SAW juga pernah melakukan ini hal yang demikian. Adapun beliau mengutamakan kaumnya, Bani Umayyah, kerana Rasulullah sendiri mendahulukan kaum Quraish daripada bani lainnya. Demi Allah seandainya kunci syurga ada di tanganku, aku akan memasukkan Bani Umayyah ke syurga.”

Setelah mendengar penjelasan Ali ra., umat Islam pulang dengan rasa puas. Tetapi para peniup fitnah terus melancarkan fitnah dan merencanakan makar jahat mereka. Di antara mereka ada yang menyebarkan tulisan dengan tanda tangan palsu daripada sahabat termuka yang memburukkan Uthman. Mereka juga menuntut agar Uthman dibunuh.

Fitnah keji pun terus menjalar dengan kejamnya, sebahagian besar umat termakan fitnah tersebut hingga terjadinya pembunuhan atas dirinya, setelah sebelumnya terkepung selama satu bulan di rumahnya. Peristiwa inilah yang disebut dengan “Al-Fitnah al-Kubra” yang pertama, sehingga merobek persatuan umat Islam.

Pembunuhan Uthman

Saidina Uthman ra. syahid dibunuh oleh pemberontak-pemberontak yang mengepung rumahnya. Pada tanggal 8 Zulhijah 35 Hijriah, Uthman menghembuskan nafas terakhirnya sambil memeluk Al-Quran yang dibacanya. Sejak itu, kekuasaan Islam semakin sering diwarnai oleh titisan darah. Pemerintahannya memakan masa selama 12 tahun, yang mana ianya merupakan pemerintah yang paling lama dalam pemerintahan Khulafa‘ ar-Rasyidin.

Uthman syahid.

Anas bin Malik meriwayatkan hadis berikut:

“Nabi pernah naik gunung Uhud dengan Abu Bakr, `Umar, dan` Usman bin Affan. Gunung menggocangkan mereka. Nabi berkata (kepada gunung), Teguhlah wahai Uhud! Untuk Anda ada Nabi, seorang Siddiq, dan dua orang syahid.” (HR Bukhari).

Ali Bin Abi Thalib


Alī bin Abī Thālib (Arab: علي بن أﺑﻲ طالب, Persia: علی پسر ابو طالب) (lahir sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/599 – wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/661), adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi'ah berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ali adalah sepupu dari Muhammad, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Muhammad.

Syi'ah berpendapat bahwa Ali adalah khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad, dan sudah ditunjuk oleh Dia atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syi'ah meninggikan kedudukan Ali atas Sahabat Nabi yang lain, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Syi'ah selalu menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Alayhi Salam (AS) atau semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan.
Ahlussunnah[sunting | sunting sumber]

Ahlussunnah memandang Ali bin Abi thalib sebagai salah seorang sahabat rasulullah yang terpandang. Hubungan kekerabatan Ali dan rasulullah sangat dekat sehingga ia merupakan seorang ahlul bait dari nabi shallallahu'alaihi wa sallam. Ahlussunnah juga mengakui Ali bin abi thalib sebagai salah seorang khulafaurrasyidin (khalifah yang mendapat petunjuk).

Sunni menambahkan nama Ali dengan Radhiyallahu Anhu (RA) atau semoga Allah ridha padanya. Tambahan ini sama sebagaimana yang juga diberikan kepada Sahabat Nabi yang lain.
Sufi[sunting | sunting sumber]

Sufi menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Karramallahu Wajhah (KW) atau semoga Allah me-mulia-kan wajahnya. Doa kaum Sufi ini sangat unik, berdasar riwayat bahwa dia tidak suka menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal buruk bahkan yang kurang sopan sekalipun. Dibuktikan dalam sebagian riwayat bahwa dia tidak suka memandang ke bawah bila sedang berhubungan intim dengan istri. Sedangkan riwayat-riwayat lain menyebutkan dalam banyak pertempuran (duel-tanding), bila pakaian musuh terbuka bagian bawah terkena sobekan pedang dia, maka Ali enggan meneruskan duel hingga musuhnya lebih dulu memperbaiki pakaiannya.

Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu al-hikmah (divine wisdom) dan futuwwah (spiritual warriorship). Dari dia bermunculan cabang-cabang tarekat (thoriqoh) atau spiritual-brotherhood. Hampir seluruh pendiri tarekat Sufi, adalah keturunan dia sesuai dengan catatan nasab yang resmi mereka miliki. Seperti pada tarekat Qadiriyah dengan pendirinya Syekh Abdul Qadir Jaelani, yang merupakan keturunan langsung dari Ali melalui anaknya Hasan bin Ali seperti yang tercantum dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh Ja'far Barzanji) dan banyak kitab-kitab lainnya.
Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]
Kelahiran & Kehidupan Keluarga[sunting | sunting sumber]
Kelahiran[sunting | sunting sumber]

Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600(perkiraan). Muslim Syi'ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka'bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.

Dia bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara kalangan Quraisy Mekkah.

Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar,[butuh rujukan] Nabi SAW memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi(derajat di sisi Allah).
Kehidupan Awal[sunting | sunting sumber]

Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu.

Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi SAW karena dia tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri dia Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak dia kecil hingga dewasa, sehingga sedari kecil Ali sudah bersama dengan Muhammad.

Dalam biografi asing (Barat), hubungan Ali kepada Nabi Muhammad SAW dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) kepada Yesus(Nabi Isa). Dalam riwayat-riwayat Syi'ah dan sebagian riwayat Sunni, hubungan tersebut dilukiskan seperti Nabi Harun kepada Nabi Musa.
Masa Remaja[sunting | sunting sumber]

Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tersebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.

Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga dia menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani (spirituality dalam bahasa Inggris atau kaum Salaf lebih suka menyebut istilah 'Ihsan') atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf yang diajarkan Nabi khusus kepada dia tapi tidak kepada Murid-murid atau Sahabat-sahabat yang lain.

Karena bila ilmu Syari'ah atau hukum-hukum agama Islam baik yang mengatur ibadah maupun kemasyarakatan semua yang diterima Nabi harus disampaikan dan diajarkan kepada umatnya, sementara masalah ruhani hanya bisa diberikan kepada orang-orang tertentu dengan kapasitas masing-masing.

Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior) atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak.
Kehidupan di Mekkah sampai Hijrah ke Madinah[sunting | sunting sumber]

Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Dia tidur menampakkan kesan Nabi yang tidur sehingga masuk waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah meloloskan diri ke Madinah bersama Abu Bakar.
Kehidupan di Madinah[sunting | sunting sumber]
Perkawinan[sunting | sunting sumber]

Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra. Nabi menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang se-rumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an Muhammad(setelah Khadijah), yang selalu belajar di bawah Nabi dan banyak hal lain.
Julukan[sunting | sunting sumber]

Ketika Muhammad mencari Ali menantunya, ternyata Ali sedang tidur. Bagian atas pakaiannya tersingkap dan debu mengotori punggungnya. Melihat itu Muhammad pun lalu duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, "Duduklah wahai Abu Turab, duduklah." Turab yang berarti debu atau tanah dalam bahasa Arab. Julukan tersebut adalah julukan yang paling disukai oleh Ali.
Pertempuran yang diikuti pada masa Nabi saw[sunting | sunting sumber]
Perang Badar[sunting | sunting sumber]

Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat dia menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.
Perang Khandaq[sunting | sunting sumber]

Perang Khandaq juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud . Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.
Perang Khaibar[sunting | sunting sumber]

Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw bersabda:"Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya".

Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.
Peperangan lainnya[sunting | sunting sumber]

Hampir semua peperangan dia ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi Muhammad untuk menjaga kota Madinah.
Setelah Nabi wafat[sunting | sunting sumber]

Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi Thalib, perbedaan pendapat mulai tampak ketika Nabi Muhammad wafat.Syi'ah berpendapat sudah ada wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga pada saat Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana duka orang-orang Quraisy bersepakat untuk membaiat Abu Bakar.

Menurut riwayat dari Al-Ya'qubi dalam kitab Tarikh-nya Jilid II Menyebutkan suatu peristiwa sebagai berikut. Dalam perjalan pulang ke Madinah seusai menunaikan ibadah haji ( Hijjatul-Wada'),malam hari Rasulullah saw bersama rombongan tiba di suatu tempat dekat Jifrah yang dikenal denagan nama "GHADIR KHUM." Hari itu adalah hari ke-18 bulan Dzulhijah. Ia keluar dari kemahnya kemudia berkhutbah di depan jamaah sambil memegang tangan Imam Ali Bin Abi Tholib r.a.Dalam khutbahnya itu antara lain dia berkata : "Barang siapa menanggap aku ini pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.Ya Allah, pimpinlah orang yang mengakui kepemimpinannya dan musuhilah orang yang memusuhinya"

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Baitdan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pem-bai'at-an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Ada yang meriwayatkan setelah Nabi dimakamkan, ada yang beberapa hari setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali mem-bai'at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat

Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.
Sebagai khalifah[sunting | sunting sumber]

Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa dia, sehingga akhirnya Ali menerima bai'at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai'at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.

Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintahKhalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya,Pertempuran Basra. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu'minin Aisyah binti Abu Bakar, Istri Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika dia masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Pertempuran Shiffinyang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.

Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Ia meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami salat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.
Keturunan[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Keturunan Ali bin Abi Thalib

Ali memiliki delapan istri setelah meninggalnya Fatimah az-Zahra[1] dan memiliki keseluruhan 36 orang anak. Dua anak laki-lakinya yang terkenal, lahir dari anak Nabi Muhammad, Fatimah, adalah Hasan dan Husain.

Keturunan Ali melalui Fatimah dikenal dengan Syarif atau Sayyid, yang merupakan gelar kehormatan dalam Bahasa Arab, Syarif berartibangsawan dan Sayyed berarti tuan. Sebagai keturunan langsung dari Muhammad, mereka dihormati oleh Sunni dan Syi'ah.

Menurut riwayat, Ali bin Abi Thalib memiliki 36 orang anak yang terdiri dari 18 anak laki-laki dan 18 anak perempuan. Sampai saat ini keturunan itu masih tersebar, dan dikenal dengan Alawiyin atau Alawiyah. Sampai saat ini keturunan Ali bin Abi Thalib kerap digelari Sayyid.

Sumber : http://kisahnabidanwali.blogspot.co.id/p/kisah-4-sahabat-besar-nabi-muhammad.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar