PEREMPUAN-PEREMPUAN TELADAN DALAM ISLAM DAN AL-QURAN (2)
Shavin Iravani
Perempuan dan Integritas Moral dalam Al-Quran
Kesucian, dalam kasus Maryam as,
merupakan kesalehan luar biasa penting dalam Al-Quran. Beberapa karakter
yang diperkenalkan dalam kaitan ini adalah Maryam as, Yusuf as, dan
istri gubernur Mesir beserta sahabat-sahabatnya.
Maryam as dan Yusuf as merupakan
personifikasi kesucian karena keduanya harus melewati ujian-ujian yang
intimidatif dan mampu keluar sebagai pemenang dan suci. Namun begitu,
terdapat sebuah perbedaan esensial diantara keduanya. Yusuf as berupaya
menjaga kesuciannya tatkala para perempuan menginginkannya. Yusuf as
sama sekali tidak berpikir untuk melakukan dosa (QS. Yusuf : 24). Kasus
Maryam as, bagaimanapun, berbeda. Maryam as berkata pada malaikat
sebagai berikut :
”sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”(QS. Maryam : 18)
Sang malaikat berkata padanya :
”Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”(QS. Maryam : 19)
Maryam as menjawab, ”Bagaimana akan
ada bagiku seorang anak laki-laki sedangkan tidak pernah seorang manusia
pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”(QS. Maryam : 20)
Menurut seorang ahli tafsir, Jawadi
Amuli, ini merupakan sebuah seruan untuk melakukan perbuatan-perbuatan
baik dan meninggalkan perbuatan-perbuatan jahat. Kata-kata tersebut
memiliki nilai instruktif. Maryam as tidak hanya berlindung dari dosa
pada kekuasaan Tuhan tapi juga memperingatkan orang itu (malaikat) untuk
tidak melakukan dosa dengan mengingatkannya akan (kehadiran) Tuhan.
Dengan begitu, pengaruh spiritual Maryam as melampaui dirinya sendiri
dan memberikan efek pada individu yang lain.
Untuk menjelaskan argumen tersebut,
tampaknya akan bermakna jika merujuk pada surah Yusuf, yang di dalamnya
perilaku istri gubernur Mesir dan teman-temannya ditampilkan. Meskipun
telah menikah, perempuan tidak saleh ini jatuh cinta pada seorang
pelayan laiki-laki, Yusuf as, yang suaminya justru menganggap Yusuf
sebagai anaknya. Dia berusaha menjebak dan menggoda Yusuf. Namun, ketika
rencana jahatnya gagal dan rahasianya terbongkar, ia membalasnya dengan
mendistorsi kebenaran dan berpura-pura bahwa Yusuflah yang berupaya
merayunya. Maka, Yusuf as dijebloskan ke dalam penjara karena rencana
jahatnya. Fakta bahwa Al-Quran memberikan contoh dari kalangan perempuan
bukan pria merefleksikan pentingnya perilaku perempuan dalam kondisi
semacam itu. Lebih jauh. Al-Quran menggunakan frasa ”tipu daya yang
besar” ketika menjelaskan perilaku perempuan tersebut dan teman-temannya
yang mencoba merayu Yusuf as dan kemudian, sebagai pembalasan, menuduh
Yusuf sebagai seorang kriminal.
Pada hakikatnya, sebuah telaah yang
seksama tentang kisah Yusuf as dalam Al-Quran menyingkapkan salah satu
tema utama, yakni tipudaya. Saudara-saudara Yusuf as menipu ayah mereka
dan berupaya untuk membunuh Yusuf as. Yusuf as di kemudian hari
menyembunyikan sebuah gelas berharga dalam karung saudaranya dan menuduh
saudaranya telah melakukan pencurian. Al-Quran menyatakan bahwa Allah
SWT mengajari yusuf penggunaan tipu daya tadi. Ketika mengetahui bahwa
teman-temannya memperolok karena telah jatuh cinta pada Yusuf as, istri
gubernur Mesir mengundang mereka semua dan memberikan tiap-tiap mereka
semua sebilah pisau dan buah-buahan. Kemudian ia menampilkan ketampanan
Yusuf as pada mereka. Maka kelompok perempuan yang terpesona ini melukai
tangan masing-masing, alih-alih mengupas buah itu, tatkala menyaksikan
(ketampanan) Yusuf.
Namun demikian, di antara tipu daya dan
rencana tersembunyi ini, hanyalah tipu daya perempuan yang menciptakan
sebuah ”kemenangan besar”. Alasannya adalah efek distruktif dari tipu
daya itu dalam menjerumuskan orang lain. Hal ini juga merefleksikan
bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pria.
Dengan mempertimbangkan fakta bahwa
Maryam as berada satu langkah di depan Yusuf as dalam integritas moral
dan bahwa perempuan dianugerahi kekuatan untuk mempengaruhi pria, dan
dengan demikian mampu melakukan ”tipu daya yang besar”, kita dapat
menyimpulkan bahwa peran perempuan dalam mempertahankan integritas moral
masyarakat jauh lebih signifikan ketimbang pria.
Meski, bagaimanapun, tidak berarti bahwa
pria tidak mempunyai tanggung jawab dalam kaitan ini. Yusuf as
diperkenalkan dalam Al-Quran sebagai model kesucian seorang pria.
Meskipun belum menikah, menarik, dan dicari banyak perempuan, ia mampu
mengontrol hasratnya dan lebih memilih pesakitan (dalam penjara)
daripada mengalami kerusakan moral. Diriwayatkan oleh Rasulullah SAW
bahwa Yusuf as merupakan kriteria kesucian bagi pria sementara Maryam as
adalah kriteria yang sama bagi perempuan, di hari pengadilan nanti.
Dalam salah satu bagian yang membahas
kemungkinan penerimaan wahyu, telah ditekankan bahwa, berdasarkan
Al-Quran, Maryam as adalah seorang nabi dan telah menerima wahyu. Namun
demikian, Maryam bukanlah satu-satunya perempuan yang telah melakukan
komunikasi supranatural. Ibunda Nabi Musa as diperkenalkan dalam
Al-Quran sebagai orang yang telah menerima wahyu (QS. Thaha : 38), dan
istri Ibrahim as juga berbicara dengan para malaikat (QS. Hud : 73).
Dengan demikian, status transendental penerimaan wahyu tidaklah
semata-mata menjadi milik kaum pria. Bagaimanapun, pertanyaan yang
muncul di sini adalah; mengapa semua nabi, yang memiliki tugas untuk
menyampaikan pesan Tuhan kepada manusia, dipilih dari kaum pria ?
Jawabannya terletak pada posisi historis
perempuan dalam masyarakat manusia. Bahkan kini, sangatlah sulit bagi
masyarakat-masyarakat patriarkal untuk menerima kepemimpinan perempuan.
Dengan begitu, bagaimana dapat diharapkan bahwa pada milenium yang lalu
seorang perempuan dapat diakui, bukan hanya sebagai agamawan atau
intelektual, tetapi juga pemimpin politik dan militer dari masyarakat ?
Aspek-aspek yang ditelaah hingga kini
dihubungkan dengan identitas esensial umat manusia sebagai pria dan
perempuan. Kini saatnya untuk memperhatikan peran perempuan dalam
kehidupan. Al-Quran memberikan kepada perempuan banyak peran dengan cara
membahas karakter beberapa contoh, yang perilakunya terhadap kehidupan
dan pemenuhan tugas-tugasnya sangatlah dipuji atau bahkan dikecam. Di
antara peran-peran tersebut, salah satunya yang paling signifikan adalah
peran mereka sebagai ibu dan istri. Sebagai istri, seperti halnya istri
Imran, istri Zakaria, istri-istri Ibrahim (Sarah dan Hajar), dan istri
Ayyub, yang dirujuk dalam Al-Quran. Perempuan-perempuan tersebut dipuji
berdasarkan dua kesalehan utama; dipuji sebagai hamba yang saleh dan
pelaku amal-amal saleh, serta sejumlah kesalehan personal lainnya; dan
kemudian dipuji karena telah menjadi mitra yang sempurna bagi suami
masing-masing di jalan Allah SWT. Haruslah dicatat bahwa bukan hanya
persahabatan dan ketaatan yang dipertimbangkan terpuji. Hal-hal tersebut
bernilai hanya karena mereka melakukannya demi Allah dan karena Allah.
Istri Firaun dipuji karena ketidakpatuhannya pada seorang suami yang
zalim, istri Nuh as dan istri Luth as dikecam karena tidak taat terhadap
suami-suami mereka yang saleh, dan istri Abu Lahab dikecam karena
menaati dan membantu suaminya yang zalim (QS. Ali Imran : 34-36;
Al-Anbiya : 89-90; Hud : 69-73; Ibrahim : 37; Shad : 41-44).
Sebagai ibu, Al-Quran memberikan contoh
perempuan-perempuan seperti Maryam (ibunda Nabi Isa as), ibunda Maryam
as, ibunda Musa as, dan juga istri Firaun yang menyelamatkan,
melindungi, dan mendidik Musa as. Keibuan Maryam as sejak awal diuji
dengan penderitaan dan tekanan. Namun, ia tetap menghadapi masyarakatnya
dengan berani dan membesarkan serta mendidik Isa as dengan baik (QS.
Maryam : 22-23). Ibunda Maryam as, di sisi lain, bersumpah bahwa bayi
dalam kandungannya akan didedikasikan pada Tuhan dan setelah sang bayi
lahir, memohon kepada Allah untuk melindunginya dan anaknya (QS. Ali
Imran : 34-36).
Ibunda Nabi Musa as dalam kesedihan yang
luar biasa – tapi ditenangkan oleh firman Allah – menghanyutkan anaknya
di Sungai Nil dan mengikutinya. Allah SWT, berkat kasih-Nya,
mengembalikan putranya ke pangkuannya ”agar senang hatinya dan tidak
berduka cita” (QS. Thaha : 36-40). Istri Firaun membujuk suaminya agar
tidak membunuh Musa as, melaksanakan semua tugas seorang ibu bagi Musa,
dan akhirnya menjadi pengikut Musa serta mengorbankan hidupnya bagi
keyakinannya (QS. Al-Qashash : 7-9 dan At-Tahrim : 11-12).
Tak ada referensi langsung mengenai ibu
yang buruk dalam Al-Quran. Akan tetapi Nuh as memiliki seorang putra
yang amoral, yang dibesarkan seorang ibu yang buruk. Meskipun Al-Quran
tidak mengindikasikan sebuah hubungan, namun setidaknya dapat dikatakan
bahwa terdapat suatu hubungan antara ibu yang tidak bertanggungjawab
dengan putra yang jahat. Ini bukanlah nilai yang tipikal karena hubungan
seperti itu tidak ditemukan dalam keluarga Luth as. Al-Quran berbicara
mengenai semua anggota keluarga Luth as sebagai orang yang diselamatkan
kecuali istrinya (QS. Hud : 81).
1.Perempuan Muslim Teladan
Mereka yang tumbuh dan hidup dalam sistem
pendidikan Islam membentuk kelompok kedua dari para teladan. Sumber
informasi mengenai kelompok pertama, perempuan dalam umat-umat
terdahulu, adalah Al-Quran, sumber informasi terpenting di Dunia Islam.
Namun, sumber informasi tentang pribadi-pribadi Muslim teladan merupakan
koleksi sangat luas dalam catatan sejarah dan kata-kata yang
diriwayatkan dari para pemimpin awal Islam. Beberapa bagian dari koleksi
informasi yang luas ini tidaklah dapat diandalkan sepenuhnya. Dengan
begitu, sangatlah krusial bagi seseorang untuk merujuk pada
dokumen-dokumen sejarah yang berbeda untuk memastikan peristiwa atau
pembicaraan yang dilaporkan itu otentik. Namun demikian, sumber-sumber
ini memiliki keuntungan karena begitu terperinci dan, dibandingkan
dengan Al-Quran, memuat beragam data yang luas tentang sejumlah karakter
teladan. Maka satu cara terbaik untuk menegaskan sebuah perilaku
sebagai kesalehan adalah dengan menemukannya pada figur yang saleh. Hal
yang penting lainnya adalah bahwa perempuan dalam Al-Quran kebanyakan
ditampilkan dalam identitas esensialnya sebagai sosok perempuan dan
suatu telaah mengenai peran mereka dalam kehidupan diletakkan pada
signifikansi yang sekunder. Namun demikian, dalam catatan sejarah yang
tersedia, perempuan secara mendasar digambarkan dalam peran-perannya
dalam kehidupan sehingga deskripsinya sangat dipengaruhi oleh
asumsi-asumsi pandangan patriarkal dari periode-periode sejarah yang
berbeda. Maka, Al-Quran adalah tak terbandingkan oleh semua teks
tersebut dalam rangka menemukan status sejati perempuan dalam Islam.
Juga sangat vital untuk menggunakan Al-Quran sebagai standar untuk
menilai catatan-catatan sejarah tersebut, khususnya karena sebagian
besar ambiguitas dan komplikasi mengenai status perempuan dalam Islam
berakar dari laporan-laporan sejarah tersebut.
Perempuan Muslim teladan terbagi dalam
dua kelompok; perempuan dari kalangan Ahlul Bait Rasulullah SAW dan para
pengikut setianya dari kalangan perempuan secara umum. Di antara
anggota kelompok pertama, kita dapat menyebut nama-nama seperti Khadijah
as (istri Nabi SAW), Fatimah as (putri beliau SAW), Zainab as (cucu
perempuan SAW), serta beberapa saudara perempuan para Imam dan anak
perempuannya, seperti Fatimah dan Sakinah (putri-putri Sayyidina
Husain), Fatimah (saudara perempuan Imam Ridha), dan Hakimah (anak
perempuan Imam Ali an-Naqi). Para istri sebagian imam juga termasuk
dalam daftar tersebut, seperti Ibunda Imam Mahdi, Narjes, yang menurut
beberapa laporan sejarah seorang murid Isa as. Terdapat juga sejumlah
nama perempuan yang disebutkan sebagai pengikut setia Rasulullah SAW dan
para Imam.
2.Fatimah Zahra
Fatimah, putri Rasulullah SAW, memiliki
status paling tinggi di antara semua karakter tersebut. Karakteristiknya
identik dengan apapun yang dinilai Al-Quran sebagai terpuji dan
berharga pada diri perempuan. Berikut ini merupakan sejumlah laporan
yang diriwayatkan tentang status spiritualnya.
- Fatimah merupakan sosok terpilih di antara seluruh perempuan di dunia.
- Fatimah bercakap-cakap dengan para malaikat dan bahkan setelah wafatnya Rasulullah SAW, berbicara dengan Jibril dan menerima beberapa penjelasan darinya.
- Fatimah dipandang pada derajat tinggi oleh Allah dan Allah telah menetapkannya sebagai salah seorang hamba-Nya yang terpilih.
- Fatimah merupakan titik sentral Ahlul Bait Nabi SAW dan semua anggota yang dirujuk pada Ahlul Bait berada dalam terminologi hubungan mereka dengannya. Diriwayatkan bahwa Allah, ketika berbicara kepada Jibril, merujuk pada anggota-anggota keluarga suci ini dalam terminologi berikut; mereka adalah Fatimah, ayahnya, suaminya, dan putra-putranya.
- Fatimah adalah salah satu dari orang-orang yang bersegera dalam melakukan semua perbuatan baik.
- Fatimah merupakan seorang manusia tersabar, yang mengalami berbagai derita dan diksriminasi dari orang-orang zalim tetapi tidak pernah mengutuk seorang pun dari mereka.
- Fatimah memiliki status tinggi sebagai eksistensi suci yang mampu memberikan pertolongan (syafaat) atas izin Allah untuk umat manusia.
- Fatimah merupakan kriteria bagi perbuatan-perbuatan manusia pada hari pengadilan
- Fatimah mengaplikasikan seluruh kualitas dan posisi tersebut pada perilakunya yang khas terhadap kehidupan dan perubahannya serta energi Fatimah yang seakan tak pernah habis dalam meraih pertumbuhan spiritual dan kesempurnaan.
3.Sikap Fatimah terhadap Kehidupan
Sebuah telaah yang seksama tentang gaya
hidup Fatimah menunjukkan bahwa seluruh hidupnya dibentuk satu prinsip
yang esensial; lebih memilih kesusahan daripada kemudahan.
Seseorang mungkin akan terkejut ketika
mengetahui prinsip seperti itu; mengapa ia mesti memilih prinsip
tersebut dan melaksanakannya sepanjang hayat? Di Dunia modern kita, yang
di dalamnya seluruh nilai secara drastis mengalami metamorfosis dan
yang di dalamnya teknologi bermaksud untuk mereduksi kesulitan dan
memanjakan manusia dengan kemungkinan maksimal dari kemudahan dan
kenyamanan, pertanyaan di atas jelaslah sangat relevan. Islam,
bagaimanapun, memiliki pandangannya tersendiri.
Ketika berbicara tentang penemuan diri
dan pertumbuhan spiritual, Islam mendorong adanya pengalaman dalam
menghadapi kesulitan hingga batas yang layak bagi seseorang. Membangun
suatu karakter memerlukan ketahanan akan kesusahan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Al-Insyirah : 5)
Ini merupakan prinsip yang sama, yang
dapat ditemukan dalam kehidupan semua orang saleh, para reformis besar,
dan semua pencari tujuan-tujuan yang bermakna. Berikut beberapa
contohnya.
- Lebih memilih kemiskinan ketimbang kemakmuran dan kekayaan. Meskipun memiliki penghasilan yang stabil dari tanah Fadak, Fatimah hidup dalam kemiskinan dan mendermakan penghasilannya pada fakir miskin. Ia diriwayatkan pernah berkata, ”Aku tidak memiliki sesuatu apapun kecuali sepasang sepatu sobek dan penuh tambalan serta sehelai pakaian dan selembar hijab dalam kondisi yang sama.”
- Lebih mencintai orang lain daripada diri sendiri; putra Fatimah, Sayyidina Hasan mengenang ibunya sebagai berikut, ”Suatu kali, ibuku mendirikan shalat sejak pertengahan malam hingga fajar menjelang dan mendoakan seluruh orang kecuali dirinya sendiri. Aku bertanya, kenapa ? beliau berkata, putraku tersayang! Yang pertama adalah tetangga lalu dirimu.
- Lebih menyukai kesederhanaan daripada kemewahan. Fatimah mendermakan perhiasan-perhiasan lehernya, anting-anting, perhiasan-perhiasan anak-anaknya, dan gorden-gorden rumahnya yang indah untuk membantu kemajuan Islam. Ayahnya, Nabi SAW, merupakan sumber pendorong akan hal ini.
- Lebih menyukai usaha dan kesulitan daripada kemudahan dan kemalasan. Fatimah bersikeras mengerjakan sendiri tugas-tugas rumah tangga dan tangannya menunjukkan efek kerja keras itu.
- Lebih menyukai shalat malam daripada tidur dan beristirahat. Putranya, Sayyidina Hasan pernah menuturkan, ”Tak seorang pun yang lebih mengabdi daripada Fatimah. Ia berdiri di atas kakinya (mendirikan shalat) begitu lama sehingga kakinya bengkak.”
”Pada sebagian besar malamnya, ia mendirikan shalat hingga pagi hari.”
- Lebih suka menentang kezaliman daripada diam. Fatimah adalah pejuang Tuhan di hadapan kezaliman, khususnya setelah Rasulullah SAW wafat, ketika dirinya melancarkan protes terhadap berbagai ketidakadilan dengan keberanian luar biasa. Dua di antara penentangannya yang penting tercermin dari dua khutbah yang disampaikannya; satu di masjid dihadapan semua orang, satunya lagi di rumah di hadapan kehadiran orang-orang yang datang menjenguknya tatkala sakit. Ia memohon kepada suaminya, Sayyidina Ali, agar menguburkannya diam-diam sehingga orang-orang zalim tidak mengetahui kuburnya dan, dengan begitu, terhindar dari hipokritas (kemunafikan) yang dipertontonkan orang-orang tersebut setelah kematiannya. Ini juga merupakan suatu bentuk yang kompleks dari penentangan Fatimah as terhadap kezaliman orang-orang tersebut.
Semua yang disebutkan di atas secara
konsisten dilaksanakan karena Fatimah hendak meraih status tinggi dari
keridhaan Allah serta dileburkan dalam eksistensi-Nya yang abadi, tangga
tertinggi dari kesempurnaan manusia. Kaum perempuan yang hidup semasa
dengan Fatimah mengatakan bahwa Fatimah memiliki seluruh karakteristik
kemanusiaan yang transenden.
”Aku tidak pernah melihat seorang perempuan yang lebih peduli daripada Zahra.”
”Rasulullah SAW memberikan padaku putrinya. Maka, kudidik sang putri itu tetapi ia ternyata lebih terdidik dibandingkan aku.” Istri Nabi SAW, Aisyah berkata, ”Aku tidak pernah melihat seorang perempuan pun yang lebih mukmin daripada Fatimah.” Aku tidak pernah melihat siapa pun yang lebih utama dibanding Fatimah kecuali ayahnya.”
Haruslah diperhatikan bahwa
kualitas-kualitas yang disebutkan dari sumber-sumber yang berbeda,
sebagai bukti bagi status spiritual Fatimah dan karakter teladannya,
merupakan tanga-tanda umum kesempurnaan bagi segenap manusia, di mana masalah gender sama sekali tidak berperan apapun dalam konteks ini.
Kesimpulan
Sudah menjadi Fitrah Manusia untuk
mencontoh sosok yang ideal. Dalam Islam, sosok yang ideal mewujud pada
pribadi-pribadi tertentu, yang memiliki nilai-nilai spiritual termulia.
Melalui sebuah telaah terhadap
karakter-karakter dalam Al-Quran dan teks-teks Islam, menjadi jelas
bahwa kesempurnaan spiritual terbuka bagi siapapun, baik pria maupun
perempuan. Kami menyajikan beragam contoh mengenai perempuan-perempuan
yang telah meraih kedekatan dengan Tuhan dan menjadi teladan bagi pria
dan perempuan di seluruh penjuru dunia. Dalam pribadi-pribadi yang
disebut sebagai ”empat perempuan sempurna” kesalehan-kesalehan abadi
telah dipaparkan, seperti kesabaran, kesucian, dan keberanian. Sebagai
perempuan, mereka juga menampilkan diri di hadapan kaum perempuan
Muslim, pelbagai model peran yang ideal dalam tugas-tugasnya sebagai
istri dan ibu. Pada diri Maryam as, kita menyaksikan pengaruh langsung
kesuciannya dalam membesarkan dan mendidik puranya, Nabi Isa as. Pada
Khadijah, kita melihat signifikansi persahabatan seorang istri pada
suaminya dalam mendukung sang suami dalam kehidupan yang berorientasi
Ilahiah. Pada karakter Aisyah as, kita mengamati suatu personifikasi
keberanian dan pengabdian pada Tuhan dalam penentangannya terhadap
tirani dan kezaliman suaminya. Semua kebaikan dan kesalehan tersebut
bersatu padu dalam semangat tanpa akhir pada diri Fatimah az-Zahra as.
Ia benar-benar merupakan perempuan paling inspiratif dalam penciptaan
dan cahayanya bersinar layaknya obor yang menerangi umat manusia.
Seorang perempuan Muslim selamanya
diberkati dengan keberadaan para teladan tersebut, yang menampilkan
baginya suatu bimbingan dan inspirasi yang diperlukan untuk meraih
kesempurnaan dan tetap mulia di antara perempuan-perempuan lain di
masanyaSumber : https://buletinmitsal.wordpress.com/perspektif/perempuan-perempuan-teladan-dalam-islam-dan-al-quran-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar